Pencarian

Delegasi JMSI Ziarahi Makam Ayah Laksamana Cheng Ho di Yunnan, Tegaskan Simbol Persahabatan Berusia Ratusan Tahun

Kamis, 16 Juli 2026 • 11:34:31 WIB
Delegasi JMSI Ziarahi Makam Ayah Laksamana Cheng Ho di Yunnan, Tegaskan Simbol Persahabatan Berusia Ratusan Tahun
Delegasi JMSI berziarah ke makam Ma Hazhi, ayah Laksamana Cheng Ho, di Distrik Jinning, Yunnan, Tiongkok.

KALIMANTAN TENGAH — Makam Ma Hazhi yang ditemukan pada 1894 itu berada tak jauh dari Museum Distrik Jinning. Penemuan situs ini membuka tabir tentang garis keturunan Cheng Ho, laksamana Muslim Dinasti Ming yang memimpin pelayaran besar ke Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga pantai timur Afrika pada abad ke-15. Prasasti di belakang nisan mencatat bahwa Cheng Ho pernah berziarah ke makam ayahnya di tengah kesibukannya sebagai petinggi militer di Beijing.

Jejak Pelayaran dan Pengaruh di Nusantara

Cheng Ho, yang lahir dengan nama Ma He, mendapat nama keluarga Zheng dari Kaisar Yongle. Karier militernya menanjak hingga ia dipercaya memimpin armada Tiongkok. Pelayarannya menjangkau Semarang, Palembang, Selat Malaka, Champa, Siam, India, Sri Lanka, Selat Hormuz, Laut Merah, hingga Afrika Timur.

Di Indonesia, jejak Cheng Ho melekat kuat. Namanya diabadikan pada sejumlah masjid di Palembang dan Batam. Kawasan Sam Poo Kong di Semarang juga dikaitkan erat dengan riwayat persinggahan sang laksamana. “Nama Laksamana Cheng Ho begitu dikenal di Indonesia. Dia tidak hanya dikenang sebagai penjelajah besar dalam sejarah, tetapi juga simbol persahabatan, diplomasi, dan jembatan kebudayaan,” kata Teguh Santosa dalam pernyataannya.

Hubungan Damai yang Terjalin Sejak Abad ke-15

Teguh menambahkan, perjalanan Cheng Ho menjadi bukti hubungan kedua bangsa yang tumbuh melalui perdagangan dan sikap saling menghormati. “Hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok telah ditempa selama ratusan tahun secara damai melalui perdagangan yang didasarkan pada sikap saling menghormati,” ujarnya.

Kawasan Bukit Yueshan dipercaya sebagai tanah kelahiran Cheng Ho. Sebuah patung setinggi 5,5 meter berdiri di kawasan tersebut menghadap Danau Dian Chi. Ma Hazhi sendiri disebut meninggal dalam perang pada usia 39 tahun.

Dari Legenda ke Inspirasi di Era Digital

Pembina Farah.id, Farida Farhah, mengaku terkesan dengan kunjungan tersebut. “Sejak kecil kita sudah sering mendengar nama Cheng Ho. Dulu kita menganggapnya sebagai legenda. Ternyata ada dan nyata. Kisah hidupnya sungguh inspiratif,” katanya.

Penasihat JMSI Mursyid Sonsang mengatakan, organisasi media ini ingin membawa semangat serupa dalam hubungan antarbangsa. “Seperti Cheng Ho, kami juga siap menjadi jembatan kebudayaan dan persahabatan di era digital,” ujarnya. Kunjungan ini sekaligus menegaskan bahwa narasi hubungan Indonesia-Tiongkok bukan sekadar hubungan antarnegara, melainkan telah mengakar kuat di antara masyarakat kedua bangsa.

Follow www.kabarpalangkaraya.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks