PALANGKA RAYA — Kantong warga Kalimantan Tengah makin tipis sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan pemantauan BPS Kalteng, IHK provinsi ini naik dari 108,20 pada Juli 2025 menjadi 112,87 pada Juli 2026. Artinya, inflasi y-on-y menembus 4,32 persen, lebih tinggi dari laju inflasi nasional yang biasanya berkisar di angka 2-3 persen.
Kepala BPS Kalteng Toto Haryanto Silitonga menyebut kenaikan harga komoditas pada Juli 2026 secara umum memang menunjukkan peningkatan dibanding bulan yang sama tahun lalu. "Inflasi y-on-y itu pun terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran," ucapnya di Palangka Raya, Senin.
Beras dan Emas Perhiasan Jadi Biang Inflasi
Dari sebelas kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 2,22 persen. Disusul kelompok transportasi dengan andil 0,67 persen dan kelompok perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 0,57 persen.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi antara lain beras, emas perhiasan, bensin, ikan nila, minyak goreng, hingga ikan gabus. Beberapa jenis ikan lokal seperti ikan kapar, ikan papuyu, dan ikan patin juga ikut menyumbang kenaikan. Di sektor transportasi, angkutan udara dan solar turut menekan daya beli masyarakat.
Empat Kabupaten/Kota Terdampak, Kapuas Tertinggi
BPS memantau IHK di empat kabupaten/kota di Kalteng, dan seluruhnya mengalami inflasi y-on-y. Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,78 persen dengan IHK 114,36. Sementara inflasi terendah terjadi di Sampit yang mencapai 3,58 persen dengan IHK 111,66.
Dua wilayah pemantauan lainnya, termasuk Kota Palangka Raya, juga mengalami tekanan harga yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga tidak hanya terjadi di pasar kota besar, tetapi merata hingga ke tingkat kabupaten.
Kelompok Pengeluaran Lain yang Ikut Naik
Selain kelompok makanan dan transportasi, beberapa kelompok lain juga mencatat kenaikan andil inflasi. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberi andil 0,27 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran menyumbang 0,29 persen.
Kelompok pakaian dan alas kaki, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, pendidikan, serta informasi dan komunikasi masing-masing menyumbang andil di bawah 0,1 persen. Meski kecil, kenaikan ini tetap menambah beban pengeluaran rumah tangga secara keseluruhan.
Bahan Bakar Rumah Tangga dan Rokok Turut Mendorong Laju Inflasi
Bahan bakar rumah tangga, sigaret kretek mesin, dan sigaret kretek tangan menjadi komoditas lain yang ikut mendorong laju inflasi. Kue basah, kue kering berminyak, serta gula pasir juga tercatat memberikan tekanan pada indeks harga konsumen.
Pelumas atau oli mesin dan daging ayam ras melengkapi daftar komoditas yang mengalami kenaikan harga. Dengan tren ini, masyarakat Kalteng perlu mencermati pengeluaran rumah tangga dalam beberapa bulan ke depan, terutama untuk kebutuhan pokok dan energi.