SAMPIT — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggencarkan patroli di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdekatan dengan permukiman. Langkah ini merupakan respons atas mulai memasuki musim kemarau yang membuat potensi kebakaran semakin tinggi.
Kepala Disdamkarmat Kotim, Akhmad Taufik, menyebut patroli difokuskan di lima titik yang selama ini menjadi langganan api. Beberapa di antaranya adalah lahan gambut di pinggiran Kota Sampit, kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 5 hingga Kilometer 15, Jalan Pramuka, Jalan Jenderal Sudirman, serta area di belakang kompleks perumahan dan perkebunan warga.
Personel Siaga Penuh, Termasuk Saat Libur
Seluruh personel dan armada diminta tetap siaga, termasuk pada hari libur. Taufik menjelaskan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pembakaran lahan kerap terjadi saat pengawasan dianggap lengah.
“Kami menginstruksikan seluruh tim piket Mako Damkar untuk meningkatkan patroli di wilayah-wilayah rawan karhutla, khususnya yang berbatasan langsung dengan permukiman masyarakat,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
“Selama hari libur kami tetap menyiagakan personel dan armada. Berdasarkan pola yang terjadi sebelumnya, aktivitas pembakaran lahan sering dilakukan pada saat hari libur,” katanya.
Edukasi Warga dan Ancaman Pidana
Dalam setiap patroli, petugas juga menyisipkan edukasi kepada masyarakat. Mereka menyampaikan larangan membuka lahan dengan cara membakar serta ancaman pidana yang mengintai pelaku. Dampak asap terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan, juga menjadi pesan utama yang disampaikan.
“Kita jaga sama-sama agar asap gak sampai masuk ke pemukiman. Satu titik api dicegah, ratusan warga terselamatkan dari ISPA,” tutup Taufik.
Koordinasi Diperkuat untuk Respons Cepat
Selain patroli, Disdamkarmat Kotim juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Petugas diminta segera melaporkan setiap aktivitas mencurigakan, kepulan asap, atau pembakaran terbuka agar bisa ditindaklanjuti sebelum api membesar.
“Kami lebih mengutamakan upaya pencegahan. Jangan sampai api membesar baru dilakukan penanganan, karena akan jauh lebih sulit dikendalikan,” jelas Taufik.