KALIMANTAN TENGAH — Wacana penurunan harga BBM nonsubsidi kembali mengemuka setelah harga minyak mentah dunia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kini berada di level 68-71 dollar AS per barel, sementara Brent bertahan di kisaran 74 dollar AS per barel. Angka ini jauh dari rata-rata harga saat konflik Teluk yang sempat mendorong harga di atas 80 dollar AS per barel.
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya bersifat floating atau mengikuti pergerakan harga minyak mentah internasional. Berbeda dengan BBM bersubsidi yang penetapannya bergantung pada kebijakan pemerintah, Pertamax dan produk nonsubsidi lainnya seharusnya langsung merespons tren penurunan ini.
Alasan Ekonom: Daya Beli Kelas Menengah Terbantu
Menurut Faisal, penurunan harga BBM nonsubsidi bukan sekadar soal kepatuhan terhadap mekanisme pasar. Ada dampak sosial yang lebih luas. "Ini juga akan membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat konsumen di Indonesia, terutama kaitannya dengan penurunan kelas menengah," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Ia menambahkan bahwa jika harga minyak mentah stabil di kisaran 70 dollar AS per barel, tidak ada alasan bagi Pertamina untuk menunda penyesuaian. "Jangan berlama-lama. Semestinya dalam waktu dekat harga BBM nonsubsidi sudah bisa diturunkan," tegasnya.
Pertamina: Ada Mekanisme Evaluasi Berkala
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan alias Iwan Bule mengakui telah mendorong jajaran direksi untuk menyiapkan penurunan harga secara bertahap mulai awal Juli 2026. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan tidak bisa dilakukan secara instan.
Alasannya, BBM yang saat ini dipasarkan berasal dari pembelian minyak mentah ketika harga dunia masih tinggi. "Minyak yang sekarang ini diproses bulan yang lalu dengan harga yang lalu. Kalau turunnya kemarin beberapa hari yang lalu, kita akan menyesuaikan nanti," jelas Iriawan.
Pertamina menerapkan mekanisme evaluasi berkala untuk melindungi konsumen dari volatilitas harga harian yang ekstrem. Artinya, meski harga minyak mentah sudah turun, efeknya baru terasa pada harga jual BBM beberapa pekan atau bulan kemudian.
Harga Terbaru dan Harapan Masyarakat
Sebagai gambaran, Pertamina terakhir menaikkan harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026. Saat itu, Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Pertamax Green 95 (RON 95) juga naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Sementara Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex masing-masing bertahan di Rp 20.750, Rp 23.000, dan Rp 24.800 per liter.
Iriawan mengakui bahwa tekanan untuk menurunkan harga datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto. "Pesan itu saya maknai sebagai kewajiban mutlak untuk mengutamakan kepentingan bangsa, menjaga integritas, dan memastikan Pertamina benar-benar bekerja untuk masyarakat Indonesia," tuturnya.
Meski harga minyak mentah belum kembali ke level sebelum konflik yang berkisar 60 dollar AS per barel, tren pelemahan saat ini sudah cukup untuk membuka ruang diskon. Masyarakat pun menunggu realisasi penurunan yang dijanjikan akan mulai dikaji pada awal Juli mendatang.