BKSDA Sampit Beberkan Efek Domino Karhutla: Produksi Sawit Anjlok 70 Persen, Butuh 2 Tahun Pulih

Penulis: Lukman Hakim  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:03:31 WIB
Petugas menunjukkan lokasi perkebunan sawit yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Sampit, Kalimantan Tengah.

SAMPIT — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah ternyata meninggalkan luka berkepanjangan bagi sektor agraris. BKSDA mencatat, berdasarkan analisis perkebunan besar swasta pasca kejadian karhutla dan kabut asap pada 2019 lalu, produksi tanaman merosot drastis hingga 50-70 persen. Pemulihannya pun tidak instan, butuh waktu sekitar dua tahun bagi hasil produksi untuk kembali normal.

"Produksi bisa berkurang sekitar 50 sampai 70 persen. Pemulihannya juga tidak sebentar, bahkan membutuhkan waktu sekitar dua tahun hingga hasil produksi mulai kembali seperti kondisi semula," kata Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, Selasa.

Rantai Ekosistem yang Putus: dari Ular Mati hingga Hama Tikus

Muriansyah menjelaskan, kematian satwa akibat kebakaran menciptakan ketidakseimbangan ekologis yang merugikan petani. Ia mencontohkan, karhutla menyebabkan banyak ular mati. Padahal, reptil tersebut merupakan predator alami tikus yang selama ini menjadi hama utama tanaman pangan.

"Karhutla menyebabkan banyak ular mati, sementara ular merupakan salah satu predator alami tikus. Ketika populasi ular berkurang, hama tikus berpotensi meningkat dan akhirnya berdampak pada pertanian maupun perkebunan," ujarnya.

Kondisi serupa pernah terjadi di Pulau Jawa. Ketika populasi ular menurun drastis akibat perburuan massal, populasi tikus berkembang pesat dan meluluhlantakkan lahan pertanian warga. Muriansyah menegaskan, ular tidak sepatutnya selalu dianggap sebagai hewan berbahaya yang harus dibunuh, karena di ekosistem perkebunan ia justru berperan vital sebagai pengendali hama alami.

Serangga Penyerbuk Mati, Buah dan Sawit Gagal Panen

Selain hama tikus, kebakaran juga memusnahkan serangga penyerbuk yang berperan krusial dalam proses produksi tanaman. Kematian serangga akibat kebakaran dan paparan asap mengganggu penyerbukan, terutama pada tanaman perkebunan kelapa sawit serta buah-buahan.

"Kalau kebakaran terjadi saat tanaman sedang berbunga, dampaknya bisa lebih besar karena proses penyerbukan terganggu," imbuh Muriansyah.

Ia menambahkan, beberapa jenis burung yang turut membantu penyerbukan juga ikut terdampak. Kerusakan ekosistem ini memberikan efek berantai yang baru terasa setelah kobaran api padam. Jika kebakaran terjadi bertepatan dengan musim berbunga, potensi gagal panen semakin besar lantaran bunga tidak berkembang sempurna dan mudah rontok.

Petani di Pesisir Sampit Paling Terancam Gagal Panen

Dampak ekonomi ini tidak hanya dirasakan perusahaan besar swasta, tetapi juga petani kecil. Wilayah dengan aktivitas pertanian dan perkebunan cukup besar seperti Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Pulau Hanaut menjadi kantong-kantong yang paling rentan terdampak.

Beruntung, menurut informasi yang dihimpun BKSDA, musim buah seperti durian dan rambutan di wilayah tersebut telah berlalu sebelum karhutla meningkat. Situasi dipastikan akan jauh lebih buruk jika kebakaran terjadi bertepatan dengan musim tanaman berbunga.

"Kalau bertepatan dengan musim kebakaran ini, otomatis banyak buah yang berpotensi gagal. Bunga tidak berkembang dengan baik, kemudian bisa rontok karena proses penyerbukannya terganggu," jelasnya.

Api di Lahan Gambut Bisa "Hidup Kembali", Warga Diminta Tak Membakar Lahan

Menyikapi hal ini, BKSDA mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Karakteristik lahan gambut yang berbeda dengan lahan mineral membuat api di bawah permukaan tanah sulit dipadamkan total dan dapat memicu titik api baru di kemudian hari.

"Kalau lahan gambut, bagian atasnya terlihat sudah padam, tetapi di bawahnya bisa masih menyala. Ini yang kemudian dapat kembali menjadi titik api dan memicu kebakaran," terang Muriansyah.

Selain melarang pembakaran lahan, BKSDA juga meminta warga untuk tidak menangkap atau membunuh satwa liar yang masuk ke kebun maupun ladang sebagai imbas dari karhutla yang merusak habitat mereka. Masyarakat diminta membiarkan satwa seperti kukang, bekantan, dan ular selama tidak membahayakan atau mengganggu aktivitas warga.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top