Kabut Asap Karhutla Selimuti Alur Sungai Mentaya Sampit, Pengemudi Kelotok Terpaksa Pelan dan Ekstra Hati-hati

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 17:58:01 WIB
Kabut asap tebal menyelimuti alur Sungai Mentaya di Sampit, Kalimantan Tengah, sehingga pengemudi kelotok mengurangi kecepatan demi keselamatan.

SAMPIT — Aktivitas penyeberangan di Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kini berlangsung di tengah selimut kabut asap. Kondisi ini memaksa para pengemudi kelotok mengubah cara mereka bernavigasi, tidak lagi bisa melaju normal seperti saat cuaca cerah.

Kabut asap yang menurunkan jarak pandang ini disebut paling pekat terjadi pada pagi hari. Padahal, di jam-jam tersebut, arus penumpang justru sedang ramai karena warga dari Kecamatan Seranau dan sekitarnya menyeberang ke Sampit untuk bekerja, bersekolah, atau mengurus kebutuhan lain.

Pengemudi Wajib Baca Alur Sebelum Berlayar

Amat, seorang pengemudi kelotok, menuturkan bahwa membaca kondisi alur sungai menjadi langkah wajib sebelum memutuskan berangkat. Ia tidak bisa sekadar tancap gas ketika kabut sudah turun tebal.

"Kalau mau jalan harus lihat alur dulu. Kalau alur turun, jangan coba-coba menyusur air. Kita menyusur ke sana dulu ke hulu, baru kita tembak ke situ. Susah kita mau lihat," kata Amat di Sampit, Minggu (9/8).

Keterbatasan pandangan membuat pengemudi tidak leluasa memantau sisi kiri dan kanan perahu. Situasi ini makin berisiko ketika kelotok harus berpapasan atau berbagi jalur dengan kapal besar dan tongkang yang melintas di perairan yang sama.

"Kita mau lihat kiri kanan tidak bisa, harus lurus saja kita. Harus waspada kalau ada tongkang lewat, kita harus hati-hati," ujarnya.

Penumpang Pagi Hari Ramai, Waktu Menyeberang Tak Bisa Ditunda

Irul, pengemudi kelotok lainnya, menyebut tantangan terbesar justru terjadi pada pagi hari. Di satu sisi kabut masih tebal, di sisi lain permintaan penyeberangan sedang tinggi karena anak sekolah dan pekerja harus tiba tepat waktu.

"Kami juga tidak bisa leluasa menunda waktu menyeberang, apalagi ada anak-anak sekolah, kasihan mereka kalau sampai terlambat. Makanya, kami berharap musibah kabut asap ini segera berlalu," tutur Irul.

Kekhawatiran serupa disampaikan Ika, seorang warga pengguna jasa penyeberangan. Ia merasakan sendiri udara yang sesak dan pandangan yang berkurang saat melintas di pagi hari, namun keterpaksaan untuk beraktivitas membuatnya tetap harus menyeberang.

"Kalau pagi memang asapnya terasa lebih tebal. Kita tetap harus menyeberang karena ada keperluan, tetapi memang lebih nyaman kalau kondisi sungainya tidak berkabut dan asap tidak terlalu tebal," tuturnya.

Ika menambahkan, keselamatan penumpang kini bertumpu pada kewaspadaan pengemudi. Ia berharap para pengemudi mengurangi kecepatan dan lebih fokus, mengingat arah datangnya kapal lain sulit diprediksi di tengah kabut.

KSOP Sampit Terbitkan Maklumat Pelayaran

Menyikapi kondisi ini, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit telah mengeluarkan maklumat pelayaran atau Notice to Mariners kepada seluruh insan pelayaran. Imbauan ini dikeluarkan sehubungan dengan kabut asap tebal yang menurunkan jarak pandang di sebagian wilayah kerja KSOP, khususnya pada pagi dan malam hari.

Melalui maklumat tersebut, KSOP meminta seluruh pengguna jasa transportasi air untuk meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi aturan keselamatan pelayaran selama kondisi kabut asap masih berlangsung.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top