DKUKMPP Kotim Arahkan Seluruh Produk Unggulan Kecamatan Masuk Swalayan UMKM Sampit, Ini Targetnya

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 21:36:02 WIB
Pelaksana Tugas Kepala DKUKMPP Kotim, Muslih, menyampaikan arahan pemasaran produk unggulan kecamatan di Swalayan UMKM Sampit.

SAMPIT — Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai menyusun strategi pemasaran produk unggulan dari seluruh kecamatan. Semua produk akan diarahkan masuk ke Swalayan UMKM Sampit sebagai etalase permanen produk khas daerah.

Pelaksana Tugas Kepala DKUKMPP Kotim, Muslih, mengakui selama ini banyak produk unggulan desa yang hanya tampil saat pameran. Setelah Sampit Expo selesai, produk-produk tersebut sulit ditemukan kembali karena belum punya saluran pemasaran berkelanjutan.

“Setelah Sampit Expo selesai biasanya produk-produk itu hilang lagi. Nah, sekarang kami ingin semuanya masuk ke Swalayan UMKM Sampit,” kata Muslih di Sampit, Jumat.

Data Produk Unggulan Desa Segera Dikumpulkan

Untuk merealisasikan rencana itu, DKUKMPP akan berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Pendataan dilakukan untuk mengidentifikasi potensi ekonomi setiap desa, mulai dari makanan olahan, hasil pertanian yang sudah diolah, hingga kerajinan tangan.

Muslih menuturkan, pengalamannya sebagai camat membuatnya paham bahwa setiap kecamatan di Kotim punya produk andalan yang berbeda-beda. Karena itu, pendataan menjadi kunci agar tidak ada lagi produk lokal yang hanya dikenal di lingkup desanya sendiri.

“Setiap kecamatan memiliki produk unggulannya masing-masing. Nanti produk-produk di setiap kecamatan akan kami data, semuanya akan diarahkan masuk ke Swalayan UMKM Sampit,” ujarnya.

Swalayan UMKM Sampit Masih Didominasi Produk dari Tiga Kecamatan

Saat ini, produk yang terpajang di Swalayan UMKM Sampit masih didominasi pelaku usaha dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Seranau. Kondisi ini dinilai belum menggambarkan kekayaan ekonomi seluruh wilayah Kotim yang terdiri dari 17 kecamatan.

Dengan melibatkan lebih banyak kecamatan, variasi barang yang tersedia akan semakin lengkap. Konsumen punya lebih banyak pilihan, sementara pelaku UMKM dari daerah pinggiran mendapat ruang pasar yang selama ini sulit mereka jangkau.

“Sementara ini memang masih didominasi Mentawa Baru Ketapang, Baamang dan Seranau. Ke depan kita ingin seluruh kecamatan ikut mengisi,” ucap Muslih.

Kerajinan Lokal Disiapkan Jadi Cendera Mata Khas Kotim

DKUKMPP tidak hanya fokus pada produk pangan olahan. Dinas juga akan menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kotim untuk memasarkan produk kerajinan lokal secara lebih serius.

Muslih menilai produk kerajinan punya nilai tambah tinggi dan berpotensi menjadi buah tangan khas daerah. Syaratnya, konsep pemasaran harus baik dan harga jualnya kompetitif.

“Kami ingin kerajinan tidak hanya dipajang, tetapi juga dijual. Nanti kami akan berkomunikasi dengan Dekranasda dan para perajin di Kotim agar harga jual produknya tetap bisa bersaing,” imbuhnya.

Sinergi dengan Dekranasda juga diharapkan mendorong perajin meningkatkan kualitas produk, mulai dari desain, kemasan, hingga penetapan harga agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

Target: Semua Kecamatan Terwakili di Swalayan UMKM

Upaya ini merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah memperkuat daya saing UMKM sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal. Keberadaan Swalayan UMKM Sampit diharapkan menjadi pusat promosi yang memperkenalkan identitas ekonomi kreatif Kotim kepada pengunjung dari luar daerah.

“Harapan kami, ketika orang datang ke Swalayan UMKM, mereka tidak hanya melihat produk dari Kota Sampit, tetapi juga bisa menemukan produk khas dari seluruh kecamatan di Kotim. Dengan begitu, pemasaran UMKM menjadi lebih merata dan manfaat ekonominya dirasakan lebih luas,” demikian Muslih.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top