PALANGKA RAYA — Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Agustan Saining, menegaskan bahwa upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi yang solid antara pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat menjadi prasyarat mutlak untuk mempercepat penanganan di lapangan sekaligus menekan risiko kebakaran meluas.
“Karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Dengan kerja sama dan koordinasi yang kuat antarsemua pihak, kita dapat melakukan pencegahan lebih dini serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” ujarnya, Kamis (6/8).
Melalui jajaran Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla), Dishut Kalteng meningkatkan frekuensi patroli dan pemantauan di titik-titik yang selama ini menjadi langganan api. Kesiapan personel serta kelengkapan peralatan pemadam juga dipastikan dalam kondisi siaga untuk menghadapi potensi kebakaran yang bisa muncul sewaktu-waktu.
Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dini, mengingat kondisi cuaca yang semakin kering dalam beberapa pekan terakhir. Pemantauan kawasan rawan dilakukan secara berkala agar titik api dapat segera diketahui dan ditangani sebelum menjalar ke area yang lebih luas.
Agustan mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat cuaca memasuki puncak musim kemarau. Kebiasaan tersebut dinilai menjadi pemicu utama yang kerap menyebabkan api sulit dikendalikan dan merembet ke kawasan hutan.
“Mari bersama-sama menjaga hutan dan lahan agar tetap aman. Dengan semangat kebersamaan dan koordinasi yang berkelanjutan, kami berharap penanganan karhutla semakin efektif, sekaligus menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.
Peran aktif warga disebut sangat menentukan. Selain melaporkan potensi titik api lebih cepat, keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar menjadi benteng pertama sebelum petugas tiba di lokasi kejadian.