SAMPIT — Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus melanda wilayah Kotawaringin Timur (Kotim) menyebabkan kualitas udara di daerah itu memburuk drastis. Berdasarkan pantauan DLH Kotim pada pukul 08.42 WIB, indeks pencemaran udara (IPU) mencapai 271, masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Angka ini meningkat signifikan hanya dalam kurun waktu kurang dari dua jam. Sebelumnya, pada pukul 07.03 WIB, IPU tercatat di angka 193 dengan status Tidak Sehat. Polutan utama yang mendominasi adalah PM2.5, yaitu partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikron yang berisiko tinggi mengganggu sistem pernapasan.
Memburuknya kualitas udara pagi ini dipicu oleh asap yang jauh lebih pekat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari kebakaran lahan yang kian marak, khususnya di sekitar Kota Sampit dan wilayah sekitarnya.
"Kualitas udara pagi ini menurun menjadi sangat tidak sehat. Ini perlu diwaspadai seluruh masyarakat karena rawan berdampak terhadap kesehatan," ujar Marjuki di Sampit, Rabu (5/8).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat kebakaran lahan masih marak terjadi pada Selasa (4/8) kemarin. Setidaknya ada delapan lokasi kebakaran yang terjadi sepanjang siang hingga malam hari, tersebar di sejumlah titik di antaranya Jalan Graha Pramuka Jalur 1, Sangga Buana-Sekar Arum-Tidar 3, MT Haryono Barat, Pelita Barat, Bumi Raya 1, Tjilik Riwut KM 7, serta Jenderal Sudirman KM 23.
Sejumlah lokasi tersebut merupakan titik api yang muncul sejak hari sebelumnya dan belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Kebakaran juga dilaporkan muncul di beberapa titik baru pada Selasa malam, termasuk di sepanjang Jalan Tjilik Riwut yang menghubungkan Sampit menuju Kota Besi.
Tim gabungan terus berupaya memadamkan api. Untuk lokasi yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat, pemadaman dilakukan dengan bantuan pengeboman air atau water bombing menggunakan helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kami mengimbau dengan sangat kepada masyarakat untuk membantu mencegah dan menanggulangi karhutla ini agar tidak semakin parah. Membakar lahan akan membawa dampak buruk bagi masyarakat luas. Selain itu, ada konsekuensi hukum bagi pelaku karena aparat penegak hukum sudah menegaskan akan menindak secara tegas," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.
Menghadapi kondisi udara yang kian memburuk, DLH Kotim mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan masker, khususnya saat beraktivitas di tempat terbuka. Hal ini bertujuan agar partikel halus bercampur debu hasil kebakaran tidak terhirup ke dalam saluran pernapasan.
"Selain upaya penanganan kebakaran yang terus dilakukan pemerintah, kami mengimbau masyarakat menggunakan masker agar tidak terhirup asap. Kalau tidak mendesak, kurangi beraktivitas di luar rumah," demikian Marjuki.
Hingga Rabu pagi, petugas gabungan masih melanjutkan pemadaman di sejumlah lokasi yang terbakar sejak hari sebelumnya. Pemantauan juga terus dilakukan untuk deteksi dini terhadap kemungkinan munculnya titik api baru di lokasi lain.