KALIMANTAN TENGAH — Kebutuhan listrik Indonesia diproyeksikan melonjak signifikan dalam satu dekade ke depan. PLN mencatat permintaan listrik tumbuh 4,6–5,4 persen per tahun, jauh di atas pertumbuhan kebutuhan energi primer nasional yang hanya sekitar 2 persen per tahun.
Salah satu pendorong utamanya adalah ekspansi industri dan elektrifikasi transportasi. Selain itu, kebutuhan pusat data (data center) dalam lima tahun mendatang diperkirakan membutuhkan tambahan listrik sekitar 15 gigawatt.
"Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel. Dalam konteks tersebut, gas tidak hanya berperan sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional," ujar Rakhmad dalam acara The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Intercontinental Resort Jimbaran, Bali.
Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, produksi listrik nasional diproyeksikan meningkat dari 304,4 TWh menjadi 584,3 TWh. Porsi pembangkit batu bara akan turun ke sekitar 47 persen, sementara kontribusi energi baru terbarukan naik hingga 33 persen.
Namun, pembangkit berbasis surya dan angin memiliki kelemahan: outputnya fluktuatif. Di sinilah gas dan LNG berperan sebagai balancing fuel yang menjaga keandalan sistem ketika pasokan energi terbarukan menurun.
PLN memproyeksikan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik tumbuh rata-rata 4,5 persen per tahun—dari 1.748 BBTUD pada 2026 menjadi hampir 2.490 BBTUD pada 2034. Porsi LNG dalam pasokan gas PLN diperkirakan naik dari 57 persen menjadi 67 persen.
Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat pengamanan pasokan melalui kontrak jangka panjang bersama West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub. Kerja sama ini mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD dan kontrak LNG lebih dari 49 juta ton.
Di sisi infrastruktur, PLN mempercepat pembangunan FSRU di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon. Klaster gasifikasi di Indonesia Timur juga tengah dibangun untuk memperluas jangkauan distribusi.
Kapasitas penyimpanan LNG nasional ditingkatkan menjadi sekitar 1,2 juta meter kubik dengan kapasitas regasifikasi mencapai 3.850 MMSCFD. Infrastruktur ini dirancang untuk memperkuat ketahanan rantai pasok energi di tengah dinamika geopolitik global.
Rakhmad menegaskan bahwa dorongan terhadap energi baru terbarukan tidak berarti mengorbankan keandalan sistem. Gas justru menjadi jembatan yang menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan.
"Kita tetap mendorong peningkatan energi baru dan terbarukan. Namun sistem kelistrikan juga harus tetap andal. Di sinilah gas memiliki peran strategis," tandasnya.
LNG sendiri memiliki keunggulan ganda: bersumber dari dalam negeri dan merupakan energi fosil paling bersih. Dengan penguatan kontrak pasokan jangka panjang, percepatan infrastruktur, dan diversifikasi rantai pasok, PLN membangun sistem energi yang semakin tangguh—sekaligus mendukung target Net Zero Emissions Indonesia.