PULANG PISAU — Dangdut Dayak bukan sekadar musik hiburan, melainkan medium pelestarian bahasa dan identitas budaya. Hal itu diwujudkan DKD Kabupaten Pulang Pisau lewat kompetisi yang mempertemukan 115 penyanyi dari Murung Raya, Barito Utara, Palangka Raya, Kapuas, dan tuan rumah sendiri. Dari jumlah tersebut, hanya 20 grand finalis yang lolos ke malam puncak setelah melalui seleksi ketat.
Tandean menjelaskan, keikutsertaan peserta dari berbagai daerah membuktikan bahwa dangdut Dayak tidak lagi terpusat di satu kabupaten. “Dangdut Dayak telah berkembang dan digemari oleh masyarakat di berbagai penjuru Kalimantan Tengah,” ujarnya, Sabtu. Ia menambahkan, genre ini memiliki daya tarik lintas generasi karena liriknya tetap menggunakan bahasa Dayak meskipun dibalut irama dangdut yang populer.
Menurut Tandean, kegiatan ini dirancang untuk memberikan panggung bagi penyanyi lokal yang selama ini minim kesempatan tampil. “Lomba ini untuk memberikan ruang bagi para penyanyi lokal untuk menampilkan bakat mereka,” katanya. Ia berharap ajang serupa bisa terus digelar secara berkelanjutan mengingat tingginya minat masyarakat.
DKD juga menekankan pentingnya dukungan terhadap para pencipta lagu berbahasa Dayak di daerah setempat. Melalui kompetisi ini, karya-karya mereka diharapkan semakin dikenal dan diapresiasi publik luas. Tandean menyebut, lagu-lagu yang dibawakan tetap mengangkat bahasa dan budaya Dayak sebagai identitas daerah yang harus dijaga.
Lebih dari sekadar pelestarian, DKD menargetkan lomba ini mampu melahirkan penyanyi-penyanyi berbakat yang bisa mengharumkan nama Kalimantan Tengah. “Diharapkan ke depan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat tingginya minat masyarakat terhadap dangdut dayak,” tambah Tandean. Dengan 115 peserta yang datang dari lima daerah, optimisme itu bukan tanpa dasar.