Pelacak PHK teknologi (tech layoffs tracker) yang dikelola oleh Crunchbase News memperbarui datanya setidaknya dua minggu sekali. Angka 127.000 lebih itu merupakan akumulasi dari berbagai perusahaan yang melakukan pemangkasan besar-besaran sepanjang tahun lalu. Crunchbase mencatat bahwa gelombang PHK ini tidak hanya berhenti di penghujung 2025, melainkan terus berlanjut hingga kuartal pertama 2026.
Data ini tidak hanya mencakup perusahaan yang berkantor pusat di AS, tetapi juga perusahaan asing dengan basis operasi besar di Amerika. Contohnya adalah Klarna, perusahaan fintech asal Swedia yang memiliki tim besar di AS, meskipun jumlah pasti pekerja yang terdampak di Negeri Paman Sam tidak selalu jelas.
Metodologi yang digunakan Crunchbase menggabungkan laporan media, investigasi internal, unggahan media sosial, serta data dari layoffs.fyi—sebuah basis data crowdsourced yang khusus melacak PHK di sektor teknologi. Setiap angka PHK yang tercantum merupakan estimasi terbaik berdasarkan laporan yang bisa diverifikasi. Jika jumlah karyawan yang di-PHK tidak bisa dikonfirmasi, Crunchbase akan menandainya sebagai “tidak jelas” (unclear).
Dalam pembaruan terbaru, Crunchbase mengubah pendekatan pelacakannya. Kini, mereka hanya mencatat putaran PHK paling baru dari setiap perusahaan, bukan seluruh sejarah PHK perusahaan tersebut. Langkah ini diambil untuk melacak tren secara lebih cepat dan akurat. “Itulah mengapa Anda mungkin melihat beberapa perubahan pada angka terbaru kami,” tulis tim Crunchbase News dalam penjelasan metodologinya.
Pendekatan ini memungkinkan analis dan jurnalis untuk membedakan antara perusahaan yang sudah selesai melakukan restrukturisasi dengan perusahaan yang masih dalam tahap pemangkasan aktif. Hal ini penting untuk membaca arah industri ke depan, bukan sekadar melihat akumulasi angka historis.
Gelombang PHK yang terus berlanjut ini memberikan tekanan pada pasar tenaga kerja teknologi secara global. Banyak perusahaan yang sebelumnya agresif merekrut selama pandemi kini harus melakukan efisiensi besar-besaran di tengah tekanan suku bunga tinggi dan perlambatan pendanaan ventura. Bagi para pekerja teknologi, situasi ini berarti persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan posisi yang tersisa.
Meskipun data ini berfokus pada perusahaan dengan basis kuat di AS, dampaknya terasa hingga ke pusat-pusat teknologi di Asia, termasuk India dan Indonesia. Banyak perusahaan teknologi multinasional yang memiliki pusat pengembangan di kawasan Asia Tenggara turut melakukan perampingan sebagai bagian dari strategi global.